Risda Nur Widia Blog Posts

Dinding Kalbu

ENAM bulan berlalu ketika Tarno mengerjakan proyek pembangunan di tengah perumahan kumuh. Pria paruh baya itu tak menyangka tugas tersebut kini terasa sulit. Tak masuk akal. Sebenarnya Tarno hanya disuruh membuat tembok sederhana milik seorang pensiu...
by Kliping Sastra Nusantara on Jan 10, 2017

Hujan Kontemporer

ADA hujan di dada Lastari. Sepulang dari rumah sakit seakan hujan itu turun. Setiap hari Lastari selalu merasakan ada yang berguguran di tubuhnya. Sembilu yang menghadirkan cahaya mendung dengan arak-arak awan kelabu. Kemudian disusul oleh gericik ai...
by Kliping Sastra Nusantara on Aug 3, 2016

Hitler dan Neraka yang Dibuatnya

Inilah kematian paling indah yang terjadi pada peradaban manusia. Tangisan. Kepala pecah diterjang peluru. Darah menyemburat seperti percik petasan tahun baru di langit-langit kota. Bilik-bilik rumah kayu tenggelam dalam abu kehancuran musim dingin d...
by Kliping Sastra Nusantara on Aug 2, 2016

Ziarah Sunyi

KESUNYIAN itu seperti menertawakanku; menyoraki kekalahanku. Kesunyian itu tidak pernah mampus dikoyak waktu; mendekam dalam keabadian yang fana. Kesunyian itu kini malah menggumpal, menjadi sosok gagah yang menghantamkan seluruh kenangannya kepadaku...
by Kliping Sastra Nusantara on Jun 5, 2016

Kisah Cinta yang Dungu

Gerimis baru saja reda. Senja tersaput mendung yang murung. Orang-orang bergegas dengan terburu: berlalu lalang dengan wajah panik memasuki ruang tunggu kereta di stasiun Tugu. Aroma perpisahan mengendap di setiap sudut stasiun. Pun ditambah der...
by Kliping Sastra Nusantara on Apr 24, 2016

Mencuri Matahari

BEGITU cinta kepada kekasihnya, Tarno ingin memberikan sesuatu yang berbeda. Hal yang tidak masuk akal. Bahkan bila dinalar dengan pikiran sehat, seorang lekas mengumpatnya: Gila! Akan tetapi, pria itu yakin dapat memberikan hadiah tersebut kepada ke...
by Kliping Sastra Nusantara on Mar 14, 2016

Kereta Pengantar Roh

KERETA melaju di bawah hujan dengan menyeret gerbong- gerbong tua yang seolah padat berisi kesedihan. Lantang tubuh kereta menerjang rinai air yang tak pernah putus sejak berangkat dari stasiun kota. Suasana kelabu menyingkap langit. Kemuning padi te...
by Kliping Sastra Nusantara on Feb 21, 2016

Filosofi Rumah

WAKTU cepat tergelincir ketika ia mulai merancang sebuah rumah yang kelak akan ditinggalinya bersama sang istri. Sebuah tempat yang dapat membuatnya memiliki alasan untuk pulang; tinggal di dalam dan menghabiskan masa tua hingga malaikat maut mengetu...
by Kliping Sastra Nusantara on Jan 24, 2016

Sekantong Wajah

ADA lima wajah terbungkus plastik di atas meja. Semuanya berbeda. Baru. Wajah-wajah itu terlihat rupawan; menguarakan karisma dan kesantunan seorang alim-ulama yang sering Tarno tonton di televisi. Sekilas juga mirip seorang kiai terkenal yang m...
by Kliping Sastra Nusantara on Jan 17, 2016

Saksi Kayu

SUHARTI tidak pernah mengira: kayu-kayu yang sering dipungutinya setiap hari akan menyeretnya ke lembah kemurungan. Tak pernah berpikir pula ketika membakar batang kayu kering untuk menanak nasi, ia pun sedang menanak nasibnya sendiri. Tiga poto...
by Kliping Sastra Nusantara on Nov 2, 2015

Pohon Langit

SUDAH puluhan hari kabut menutup desa kecil itu. Asap tebal itu berasal dari sisa pembakaran pohon- pohon--yang dibabat secara liar-- selama berbulan-bulan. Petak-petak hutan menjadi gundul. Kehidupan benar- benar bagai mimpi buruk mengerikan yang me...
by Kliping Sastra Nusantara on Oct 13, 2015

Kutukan Lembah Baliem

DI Lembah Baliem, kesedihan adalah darah dan pengorbanan. Kenangan merupakan kepedihaan. Pagi itu, di dalam honai-honai yang lembab, para mama telah berkumpul dan menangis. Sebuah kepergian kembali terulang. Kepergian yang tak pernah menghadirka...
by Kliping Sastra Nusantara on Aug 24, 2015

Lempengan Emas

SETELAH perang usai, kota terlihat muram. Aku termenung di antara puing-puing bangunan sisa reruntuhan rumah setelah bom dan peluru menerjang. Sepasang mataku berjingkat mengamati pemandang kota yang seolah terbingkai dalam lukisan murung. Anak-...
by Kliping Sastra Nusantara on Aug 16, 2015

Ziarah Tanpa Makam

TIDAK semua peristiwa membutuhkan tapak tilas bahkan sebuah kesedihan. Setiap waktu, peristiwa begitu saja terjadi, lantas tidak meninggal apa pun selain kesan kehilangan;  sebuah perayaan kekalahan yang terus tertunda. Tarno selalu berpikir bah...
by Kliping Sastra Nusantara on Jun 28, 2015

Bayi-Bayi Langit

Pagi itu, langit seperti beranak. Pria paruh baya yang setiap malam bertugas menjaga kampung tiba- tiba mengetuk kentongan keras.Orang-orang berkumpul mengitari keramaian tersebut. Mereka tercengang mendapati suara tangisan bayi laki-laki yang tergol...
by Kliping Sastra Nusantara on May 18, 2015

Musafir

BARANGKALI, pria itu tercipta dari sebuah ketabahan. Sudah satu minggu berlalu, ketika ia pertama kali berdiri dengan pakaian serba putih di persimpangan jalan Kota J. Tidak ada yang tahu apa yang sedang ia lakukan di sana. Selain termenung dengan ke...
by Kliping Sastra Nusantara on Mar 9, 2015

Sihir Tumis Ibu

IBU memasak tumis dengan sebuah sihir.Ia bagai membubuhkan sebuah mantra rahasia pada masakan, yang dapat membuat siapa saja merasa bahagia saat menyantapnya. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dengan tumis buatan ibu. Tumis yang sama seperti makanan...
by Kliping Sastra Nusantara on Nov 23, 2014
Close